Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Permintaan Ekspor Mulai Membaik, Neraca Jabar Surplus

    https://www.jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_43368.jpg

    BANDUNG - Badan Pusat Statistik  (BPS) Jawa Barat (Jabar) menyebutkan neraca perdagangan Jabar pada  Juni 2021 mengalami surplus dari sisi nilai sebesar USD 1,84 miliar yang ditunjang oleh surplus komoditi Non Migas sebesar USD 1,89 miliar, sedangkan komoditi Migas defisit sebesar USD 42,16 juta.

    Kepala BPS Jabar Dyah Anugrah menyebutkan dari sisi volume perdagangan luar negeri, pada bulan Juni 2021 terjadi surplus sebesar 432,14 ribu ton, yang disumbang oleh surplus komoditi Non Migas sebesar 480,33 ribu ton, sedangkan komoditi Migas defisit sebesar 48,19 ribu ton. 

    Dilihat dari transaksi perdagangan Non Migas dengan 13 negara mitra dagang utama, pada periode Juni 2021, Jawa Barat mengalami defisit neraca perdagangan dengan Korea Selatan dan Tiongkok senilai USD 178,16 juta, sedikit meningkat dibanding bulan sebelumnya yang defisit sebesar USD 175,67 juta. 

    "Sedangkan perdagangan Non Migas dengan negara utama lainnya menunjukkan surplus. Surplus neraca perdagangan terbesar adalah dengan Amerika Serikat yang mencapai USD 343,98 juta," ujarnya.

    Untuk diketahui nilai ekspor Jawa Barat Juni 2021 mencapai USD 2,81 miliar atau meningkat 24,57 persen dibanding Mei 2021. Demikian pula jika dibandingkan Juni 2020 naik 43,26 persen.

    Ekspor Non Migas Juni 2021 mencapai USD 2,80 miliar, meningkat 25,01 persen dibanding Mei 2021. Akan tetapi ekspor Migas turun sebesar 38,59 persen. Secara kumulatif, nilai ekspor Jawa Barat Januari-Juni 2021 mencapai USD 16,08 miliar atau meningkat 29,18 persen dibanding periode yang sama tahun 2020, demikian juga ekspor Non Migas mencapai USD 16,01 miliar atau meningkat 29,64 persen.

    Terpisah, Ketua Apindo Jabar Ning Astutik mengatakan hingga kini keseluruhan kegiatan perdagangan dunia masih sepi bahkan turun karena masih adanya pandemi Covid-19.  Namun disisi lain ekspor masih ada bahkan meningkat untuk produk tertentu, termasuk dari Jabar.

    "Tingginya ekspor karena komoditi pertanian dan olahan makanan masih tetap dibutuhkan, disisi lain ada peningkatan dari harga komoditas itu. Bukan volume nya yang naik tapi lebih dari naiknya kurs dolar, " jelasnya, Selasa (3/8/2021)

    Sementara menurutnya impor turun karena kebutuhan produksi industri khususnya bahan baku impor,  juga masih belum normal selama pandemi. (Rep.teguh)

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus