Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Pesantren Sebagai Alternatif Pertumbuhan Ekonomi Baru di Jabar

    https://www.jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_43181.jpg

    Kota Bandung --- Pesantren di Jawa Barat memiliki jumlah yang paling banyak secara nasional, sehingga dapat menjadi potensi penting dalam pengembangan dan pertumbuhan ekonomi. Sedikitnya terdapat 8 ribu lebih pesantren dengan santri yang berjumlah lebih dari 700 ribu orang.

    Potensi ini dipandang mampu menjadi alternatif bagi pertumbuhan ekonomi baru di Jabar. Kolaborasi antara pemerintah daerah dengan lembaga keuangan dan bisnis akan mampu menjadikan pesantren sebagai pelaku ekonomi penting di Jawa Barat khususnya ekonomi syariah.

    Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat Herawanto menuturkan kerja sama dengan pelaku bisnis perbankan dan Pemdaprov Jawa Barat serta kabupaten dan kota di Jawa Barat telah dilakukan untuk pengembangan ekonomi di 65 pesantren.

    "Hingga saat ini, telah terdapat 65 pondok pesantren mitra Bank Indonesia di Jawa Barat berkolaborasi dengan dinas pemerintah provinsi dan daerah yang tersebar di Jawa Barat dengan mengusung adopsi dan optimalisasi konsep digital and integrated farming ," ujarnya dalam event road to Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Jabar 2021 , Rabu (21/7/2021).

    Berbagai program strategis pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang dilakukan Bank Indonesia di wilayah Jawa Barat antara lain pengembangan kemandirian ekonomi Pondok Pesantren dan UMKM syariah melalui program korporatisasi IHSANI - Hebitren Jabar, pengembangan halal value chain , pengembangan Industri Kreatif Halal (IKRA), dan peningkatan edukasi, penelitian dan literasi ekonomi keuangan syariah, serta  penguatan sinergi serta kolaborasi program dengan stakeholders di wilayah kerja.

    Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil (KUK) Jawa Barat Kusmana Hartadji menambahkan, pengembangan ekonomi pesantren dilakukan melalui program OPOP, One Pesantren One Product.

    Setiap tahun, pesantren antusias mengikuti program OPOP ini. Tahun ini saja, sebanyak 1.329 pesantren mengikuti audisi. 

    "Target peserta yang lolos audisi tahap I sebanyak 1.000 pesantren. Mereka otomatis menjadi peserta program OPOP. Pesantren dengan kategori start up akan mendapat bantuan usaha Rp25 juta, dan kategori scale up mendapat bantuan usaha Rp35 juta," ucapnya. 

    Kusmana berharap dengan program OPOP, pesantren tidak hanya dapat mandiri secara ekonomi, tetapi juga menghidupkan ekonomi masyarakat sekitar pesantren. Apalagi, pesantren meyimpan potensi yang besar sebagai penggerak ekonomi masyarakat. 

    "Kami berharap tumbuh pengusaha-pengusaha di pesantren. Pesantren maju, ekonomi berkembang. Jika usaha pesantren berkembang, manfaatnya tidak hanya dirasakan pesantren itu sendiri, tetapi masyarakat sekitar serta dapat memulihkan perekonomian regional bahkan pemulihan ekonomi nasional," ucapnya. 

    CEO Kopontren Al Ittifaq Pangalengan Kabupaten Bandung Setia Irawan menambahkan pesantren saat ini sudah adaptif dengan teknologi sehingga produk yang dihasilkan sudah mampu dipasarkan hingga keluar lingkungan pesantren.

    "Al Ittifaq bahkan sudah memasok kebutuhan pasar swalayan mulai dari produk pertanian hingga peternakan dengan bantuan teknologi informasi," tuturnya.  (Rep. Teguh)

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus