Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Indonesia Bisa Kurangi Impor 40 Persen Kalau Punya Industri Soda Abu

    https://www.jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_43094.jpg
    Ilustrasi Gambar: Wikipedia

    KOTA BANDUNG --- Soda Ash, atau umumnya dikenal sebagai soda abu, merupakan salah satu komponen dasar kimia yang sangat dibutuhkan dalam beberapa industri. Yakni, dari mulai digunakan sebagai bahan deterjen dan turunannya, hingga lembar kaca dan juga turunannya.

    Namun menurut Presiden Direktur PT Kaltim Parna Industri Hari Supriyadi, hingga kini Indonesia belum memiliki industri (manufacturing plant) soda ash sendiri, dan harus mengimpor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. 

    “Padahal bahan baku cukup melimpah di tanah air. Kebutuhan akan soda ash ini pun cukup besar, hingga 1,2 juta ton pertahun, dan akan terus meningkat,” ujar Hari Supriyadi kepada wartawan, Rabu (13/7/2021).

    Kebutuhan soda ash ini, kata dia, akan meningkat lagi bila ditambah karena diperlukan juga untuk baterai mobil listrik sebagai bahan bakunya.

    "Potensi bahan baku di Indonesia ada. Rencananya, akan dibangun dengan kapasitas 300 ribu. Ini, bisa mengurangi impor soda ash 30 hingga 40 persen. Kami ingin wake up call dan menyadarkan kalau Indonesia mampu swasambada soda abu," paparnya.

    Menurutnya, untuk membangun kesadaran dan kepedulian masyarakat akan perlunya pembangunan industri soda ash di dalam negeri, pihaknya bekerja sama dengan Panitia 80 Tahun Pendidikan Tinggi Teknik Kimia di Indonesia, menggelar Kompetisi Esai Nasional bertajuk Industri Soda Ash di Indonesia 

    “Selain sebagai wadah sosialisasi akan industri soda ash dan manfaatnya, acara ini diharapkan dapat menjadi pendorong pembangunan industri di dalam negeri, yang akhirnya membantu meningkatkan ketahanan industri kimia nasional,” kata Hari. 

    Menurut Hari, pihaknya perlu masukan dari akademisi dan praktisi industri di Indonesia ini untuk bagaimana dapat memiliki industri yang sementara ini belum ada di Indonesia. Karena, mungkin ada sisi atau ruang yang tidak kami lihat dari studi dan kajian yang dilakukan.

    "Maka kami sangat menghargai dukungan ITB, Kementerian Perindustrian, Persatuan Insinyur Indonesia dan para peserta lomba Essai yang kebanyakan dari kalangan milenial," katanya. 

    Sementara menurut Ketua Umum Panitia 80 Tahun Pendidikan Tinggi Teknik Kimia di Indonesia, Tirto Prakoso Brodjonegoro, acara yang digelar mulai 8 Mei 2021 lalu berhasil menarik 217 peserta, baik individu atau pun kelompok, yang berasal dari berbagai kalangan, yaitu pelaku industri, masyarakat umum dan pelajar. 

    “Peserta yang ikut, memang cukup antusias. Dari hasil seleksi terhadap 82 esai yang masuk, terpilih 5 finalis yang pada babak final ini akan memperebutkan total hadiah 100 juta rupiah,” kata Tirto.  

    Sementara menurut Panitia Ricky Wargakusumah, dengan kompetisi ini, ia berharap bisa menyampaikan kebangkitan industri kimia di Indonesia. Karena, walaupun pabrik pupuk ada tapi masih bergantung impor. 

    "Masih banyak PR nya, bagaimana kalau kita tidak bisa impor soda ash, akan makin terasa ke hilir dalam kondisi darurat," katanya.

    Oleh karena itu, kata dia, Indonesia perlu pemandangan baru bagaimana meningkatkan ketahanan industri kimia.  "Genearasi muda punya bekal. Ini jadi harapan kami dengan menggelar pertandingan essai yang dilihat gagasan dan penyampaian karena perlu ada gagasan baru," kata Ricky seraya mengatakan para insinyur dikenal tak terbiasa menulis dengan kompetisi ini ia harap jadi terbiasa.

    Adapun Lima esai yang menjadi finalis adalah:

    1. Optimis Membangun Jembatan Devisa Melalui Industri Soda Ash sebagai Langkah Awal Kebangkitan Ekonomi Nasional oleh Apridah Cameliawati Djohan, Biro Organisasi dan SDM, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
    2. Teknologi Karbonasi sebagai Langkah Awal Swasembada Soda Abu di Indonesia dari Emisi Gas Buang Bahan Bakar Fosil, oleh Bangkit Dana Setiawan, Pratitis Mega Adinata, Vicky Wijaya dari Chandra Asri Petrochemical
    3. Menakar Penerapan Proses Modified Solvay (MS) untuk Kemandirian Industri Soda Ash Indonesia oleh Fauzi Yusupandi, dari Departemen Teknik Kimia, Institut Teknologi Bandung
    4. Industri Soda ash: Menjawab Kebutuhan Indonesia dari Kacamata Kimia, Industri, dan Ekonomi, oleh Muhammad Taruna Aldiramadan, dari Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia
    5. Industri Soda Ash di Indonesia, Haruskah Ada? oleh Siska Mutiara, dari Program Pasca Sarjana Teknik Kimia, Institut Teknologi Bandung.

    Kelima finalis ini akan mempresentasikan ide esainya di hadapan para juri yaitu Ir. Muh. Khayam, MT, IPU, sebagai Dirjen Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil, Kementerian Perindustrian RI Drs. Johnny Darmawan MSi, sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian, KADIN Indonesia Dr. Ir. Heru Dewanto, ST, MSc (Eng), IPU, ACPE. sebagai Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia Ir. Hari Supriyadi, MM, IPU, ASEAN Eng. sebagai Presiden Direktur PT Kaltim Parna Industri dan Prof. Dwiwahju Sasongko, PhD. Sebagai Guru Besar Teknik Kimia ITB. 

    (Pun)

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus