Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Kolaborasi Satgas Stunting Garut Bersama Yayasan Cipta dan Tanoto Foundation

    https://www.jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_41757.jpg

    GARUT –  Satgas (Satuan Tugas) Penanganan Stunting Kabupaten Garut bekerja sama dengan Tanoto Foundation dan Yayasan Cipta menggelar lokakarya untuk pendalaman serta penguatan strategi komunikasi perubahan perilaku yang digunakan untuk pencegahan stunting di Kabupaten Garut, bertempat di Ballroom Hotel Harmoni, Kabupaten Garut, Kamis (25/3/2021).

    Kegiatan dibuka oleh Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Kabupaten Garut Suherman, yang turut memberi apresiasi terhadap kegiatan lokakarya ini dan berharap dapat membawa perubahan bagi Kabupaten Garut. 

    “Kami merasa bangga adanya kegiatan untuk sosialiasi penajaman sampai bagaimana agar kasus stunting tidak menjadi buruk. Mudah-mudahan kegiatan sosialisasi ini berjalan lancar, membawa hasil yang maksimal, sehingga mampu membawa perubahan di Kabupaten Garut,” katanya.

    Ia juga turut menanggapi isu stunting dengan memberi himbauan khusus kepada para ibu yang memiliki peran besar dalam melahirkan generasi yang kuat. 

    “Apalagi ini merupakan program yang sangat mulia. Karena terus terang saja, stunting itu diakibatkan pola dan termasuk perilaku 
    masyarakat. Terutama adalah, maaf kepada ibu dan kaum hawa, seharusnya betul-betul makanan harus disuplai lebih (baik) dari bapak-bapak sebetulnya, karena itu ke depan akan melahirkan generasi-generasi yang kuat,” katanya.

    Program Officer Yayasan Cipta Rhiza Caesari memaparkan strategi komunikasi perubahan perilaku ini merupakan turunan dari strategi nasional, yang diadopsi oleh pemerintah Kabupaten Garut.

    “Disesuaikan dengan kebutuhan lokal dengan prioritas isunya dan kita disini akan bersama-sama membedah lagi kira-kira komponen apa yang perlu diperkuat untuk implementasi kedepan,” katanya.

    Rhiza berharap masing-masing lintas sektor dinas-dinas terkait yang hadir di pertemuan selama hari ini lebih memahami lagi, terlebih Garut kini sudah memiliki strategi komunikasi yang sudah baik dan bisa dilakukan penguatan untuk implementasi ke depan. 

    “Dan untuk masing-masing dinas untuk memahami porsinya masing-masing, dalam pencegahan stunting. Dan tentunya adalah karena stunting ini bukan hanya miliknya Dinkes atau miliknya orang kesehatan, tapi lintas sektor ini harus kolaboratif dalam pencegahan stunting,” katanya

    Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Garut dr. Tri Cahyo Nugroho juga mengungkapkan hal senada.

     “Dinas Kesehatan tidak sendiri tapi bekerja sama dengan semua SKPD yang terkait dengan stunting di Kabupaten Garut, yang tergabung dalam Satgas Stunting. Didalam Satgas Stunting itu ada dari Dinas Kesehatan, ada BAPPEDA, ada (Dinas) KB, Sosial, Ketahanan Pangan, Perikanan, Pertanian, terus DPMD. Semuanya bersama-sama melakukan intervensi untuk penurunan stunting dari berbagai sektor," katanya.

    Menurutnya, di Kabupaten Garut itu awalnya tinggi, tapi terjadi progres penurunan yang cepat. Berdasarkan data Riskesda (Riset Kesehatan Dasar) Prevalensi stunting di Kabupaten Garut
    Tahun 2013 mencapai 43,2 persen, kemudian di tahun 2018 turun menjadi 37,7 persen, sedangkan tahun 2019 mencapai sudah 27,03 persen, di bawah rata-rata nasional 27,4.  Meskipun mengalami penurunan angka stunting, Kabupaten Garut masih harus tetap bekerja keras untuk bisa mencapai target zero stunting. 

    “Untuk target zero stunting kita belum masih harus bekerja keras, seperti apa yang disampaikan oleh Bapak Bupati, jadi ada progres penurunan yang bagus tapi untuk target zero stunting itu kita harus berusaha lebih keras lagi,” katanya.

    Sementara itu, Ade Lukman (51) yang merupakan Kepala Desa Karangsari dan juga sebagai peserta lokakarya mengungkapkan, dengan adanya kegiatan ini berarti menunjukkan adanya keseriusan dari Kabupaten Garut terhadap penanganan zero stunting. 

    “Saya sangat apresiasi, dengan adanya lokakarya ini berarti Garut ada keseriusan khususnya untuk penanganan zero stunting itu sendiri. Memudahkan juga akses ke bawahnya melalui dinas-dinas yang terkait. Jadi yang tadi dikatakan oleh kami, sarana-sarana itu yang tidak mampu oleh dana desa bisa ter-cover dan dialokasikan oleh dinas-dinas terkait,” tutup Ade. 

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus