Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    95 Persen Bahan Baku Obat di Indonesia Masih Impor

    https://www.jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_39106.jpg

    BANDUNG – Sebanyak 95 persen bahan baku obat di Indonesia atau senilai Rp 21 triliun pada 2013 masih impor. Dengan rincian, 30 persen bahan baku berasal dari India, 60 persen dari China, dan 10 persen dari Eropa. 

    “Itulah mengapa, pada saat China lockdown, kita kelimpungan. Terjadi ancaman keterbatasan obat saat itu, karena 60 persen bahan baku obat berasal dari China,” ujar Pharma R&D Group and External Relation Director PT Kalbe Farma Tbk, Pre Agusta Siswantoro dalam Webinar Series #7: New Healthcare Operations Management: Now or Never yang digelar Sekolah Bisnis Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) belum lama ini. 

    Agusta menjelaskan, ada 206 industri farmasi di Indonesia dengan pasar Rp 90 triliun pada 2019. Jumlah ini terbilang kecil. Untuk perbandingan, omzet satu industri rokok di Kediri mencapai Rp 100 triliun. Itu artinya pasar 206 industri berada di bawah satu industri rokok. 

    Sebenarnya, sambung Agusta, obat yang ada di Indonesia diproduksi di dalam negeri. Namun persoalannya bahan bakunya masih impor. Jadi, kalaupun Indonesia mampu membuat obat tapi bahan bakunya tidak ada, produksi tidak jalan. 

    Untuk membuat bahan baku membutuhkan teknologi tinggi dengan biaya yang besar. Sedangkan marginnya kecil. Itulah mengapa bahan baku dijalankan melalui B to B. Berbeda dengan produksi obat seperti Indonesia yang tidak membutuhkan teknologi tinggi namun marginnya lumayan.

    Di sisi lain, pasar Indonesia kecil, sehingga bahan baku harus ekspor. Harapan kemudian datang saat program JKN diluncurkan. Program ini membuat konsumsi obat lebih besar. Namun untuk mengembangkan bahan baku ini diperlukan industri hulu. Ia berharap, setelah Covid-19 mereda, pengembangan ini bisa berjalan. 

    “Bahan baku obat ada 1.000 lebih. Tapi tidak harus semua dibikin Indonesia. Cari yang lebih strategis. Kalau 30-40 persen sudah bisa diproduksi Indonesia, kita sudah bisa mandiri,” ucap dia. 

    Selain Agusta, webinar ini menghadirkan sejumlah pembicara. Yakni CEO &Co Founder Halodoc, Jonathan Sudharta; Hospital Director Siloam Hospital Labuan Bajo, Herman Irawan; Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad), Setiawan; serta Director of Indonesian Research Institute for Healthcare Management (IRIHM) dan Lecturer of SBM ITB, Mursyid Hasan Basri. 

    CEO &Co Founder Halodoc, Jonathan Sudharta menceritakan perjalanan Hallodoc. Setelah 4 tahun berjalan, ada sebanyak 18 juta pengguna dengan 80 persen return. Selain itu terdapat 20.000 dokter, 2.200 farmasi, 2.300 providers, 450an rumah sakit yang bekerja sama dengan Hallodoc. 

    “Ini semua dibangun sebelum Covid-19. Saat Covid-19, banyak market yang tadinya skeptis, menjadi aware terhadap tele medicine,” tutur Jonathan. 

    Selama Covid-19, masyarakat Indonesia sangat berubah terhadap kesehatan. Itu terlihat dari bagaimana mereka memberlanjakan uangnya.

    Di awal pandemi, tren pembelian suplemen naik 83 persen. Secara umum, penjualan produk kesehatan di awal Covid-19 melalui Hallodoc tumbuh 687 persen. 

    Hallodoc juga membantu beberapa program Kemenkes untuk memudahkan pasien mengakses tenaga kesehatan hingga rumah sakit. Bahkan dalam 3 bulan, Hallodoc mengumpulkan 8.000 dokter untuk mengedukasi lewat webinar dan mempertemukan mereka dengan para ahli dari China dan negara lainnya dalam penanganan Covid-19. 

    “Kami juga bekerja dengan yang lain untuk mensupport mental health selama Pandemi Covid-19,” pungkasnya. (Pun)

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus