Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Kualitas Air Tanah Semakin Menurun

    https://www.jabarprov.go.id/assets/images/berita/badan-geologi3.jpg

    Bandung- Penurunan kualitas dan kuantitas air tanah di kota besar di Indonesia tidak terlepas dari kesalahan dalam tata ruang dan wilayah. Kota-kota besar sudah terdeteksi kondisi air tanahnya terus menurun, seperti Jakarta, Bandung dan Semarang.

    Badan Geologi Kementerian ESDM sendiri akan melakukan pemantauan kondisi air tanah di wilayah Jakarta, yang dianggap paling rawan.

    Menurut Sekretaris Badan Geologi, Yun Yunus Kusumahbrata, sebagai langkah awal Badan Geologi akan mengambil alih sejumlah sumur pantau yang dikelola oleh Pemprov Jakarta.

    "Sebenarnya awalnya sumur pantau itu kami yang kelola. Kemudian, sejak tahun 2000 sumur pantau diambil alih oleh pemerintah daerah," kata Yunus di Bandung, Selasa (25/1).

    Sumur pantau ini difungsikan untuk memantau kondisi air tanah di wilayah Jakarta, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Di sumur pantau dipasang alat automatic meter level recorder (AMLR) yang mengukur ketinggian permukaan air tanah. Sayangnya ketika dibawah pemerintah daerah setempat, sumur pantau di Jakarta ini tidak difungsikan dengan baik.

    Menurut Yunus jumlah sumur pantau yang ada di Jakarta mencapai puluhan. Selain, mengambil alih sumur pantau yang telah ada, Badan
    Geologi berencana menambah sumur pantau baru. Kondisi air tanah di Jakarta memperoleh perhatian utama.

    "Kami akan buat regional centre khusus air tanah di wilayah Jabodetabek," sebut Yunus.

    Pemantauan air tanah nantinya diperluas ke kota-kota besar yang mengalami krisis air tanah seperti di Bandung dan Semarang. Pemantauan air tanah ini dilakukan bekerja sama dengan German Federal Institut (GFI) melalui proyek Mitigation Georisk.

    Yunus mengatakan kerja sama telah dilakukan sejak tahun 2003. Kerja sama yang berakhir hingga tahun 2012 ini telah memasuki fase ketiga.

    Penurunan kualitas dan kuantitas air tanah di kota besar di Indonesia tidak terlepas dari kesalahan dalam tata ruang dan wilayah.  Project Team Leader Mitigation Georisk, Matthias Dorn, mengatakan keterbatasan SDM merupakan kelemahan dalam menyusun tata ruang dan wilayah.

    Melalui project ini, lanjut Matthias, disusun panduan untuk pembuatan tata ruang dan wilayah yang ideal.

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus