Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Industri Kreatif Di Tasikmalaya Perlu Merespon Beberapa Tantangan

    https://www.jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_14308.jpg

    GARUT-Disperindag Jabar, mencatat salah satu daerah di Wilayah Priangan, yaitu Tasikmalaya memiliki industri kreatif yang tengah berkembang pesat. Kendati demikian, pelaku usaha di kawasan tersebut perlu merespon beberapa tantangan.

    Hal demikian, diungkapkan Kabid. Promosi dan Kerjasamaa Industri dan Perdagangan (PKIP) Disperindag Jabar, Deddy Junaedi dalam salah satu kegiatan yang berlangsung di BKPP Wilayah Priangan, Selasa (6/10).
    Menurut Deddy, tumbuhnya industri kreatif di Tasikmalaya, disebabkan oleh adanya kolaborasi Perguruan Tinggi, pelaku bisnis, pemerintah, masyarakat dan media dalam rangka menciptakan kultur ekonomi kreatif.
    Sentra industri kreatif, kini tersebar di delapan Kecamatan. Pertama, bordir di Kecamatan Kawalu, dengan unit usaha mencapai 1.317 unit dengan penyerapan tenaga kerja sebesar 12.898 orang dan nilai investasi sebesar Rp 193.627.373.000,- dan nilai produksi sebesar Rp 895.008.263.000,-.

    Kedua, Kelom Geulis di Kecamatan Tamansari dengan unit usaha yang berkembang mencapai 504 unit usaha, penyerapan tenaga kerja sebanyak 5.924 orang, nilai investasi sebesar Rp 135.255.674.000,- dan nilai produksi sebesar Rp 396.266.958.000,-.

    Ketiga, Mebel di Kecamatan Tawang dengan unit usaha yang berkembang mencapai 202 unit, tenaga kerja terserap sebanyak 1.258 orang, nilai investasi yang berkembang Rp.9.785.331.000,- dan nilai produksi sebesar Rp 54.036.745.000,-.

    Keempat, Mendong di Kecamatan Purbaratu, dengan unit usaha yang berkembang sebesar 173 unit usaha, tenaga kerja yang terserap sebanyak 2.237 orang, nilai investasi sebesar Rp 6.891.602.000,- dan nilai produksi sebesar Rp 41.629.874.000,-.

    Kelima, Batik di Kecamatan Cipedes, dengan jumlah usaha yang berkembang mencapai 32 unit, tenaga kerja terserap sebesar 551 orang, nilai investasi sebesar Rp 2.557.166.000,- dan nilai produksi sebesar Rp 26.963.320.000,-.

    Keenam, produk alas kaki (sandal) dari kerajinan bambu di Kecamatan Mangkubumi dan Indihiang dengan unit usaha yang berkembang mencapai 75 unit, tenaga kerja terserap sebanyak 660 orang, nilai investasi Rp 1.200.038.000,- dan nilai produksi Rp 5.466.606.000,-.

    Ketujuh, Payunggeulis di Kecamatan Indihiang dan Cihideung, dengan unit usaha yang berkembang mencapai 4 unit, penyerapan tenaga kerja 37 orang, nilai investasi Rp 76.940.000,- dan nilai produksi sebesar Rp 332.800.000,- serta ke delapan jaket di Kecamatan Cibeureum.

    Deddy, menambahkan industri kreatif dari Tasikmalaya telah sukses dalam pengembangan ekspansi pasar. Untuk bordir, pangsa pasar ekspor sebesar 10%, lokal 10%, Bandung 20%, DKI Jakarta 50% dan daerah lainnya sebesar 10%.

    Pangsa pasar Batik asal Tasik, didominasi oleh pasar lokal 40%, DKI Jakarta 15% dan Bandung sebesar 10%, dan daerah lainnya 35%. Untuk pasar Kelom Geulis dan alas kaki, Bali, Kalimantan dan Sumatera mencapai 35%, lokal 15%, Bandung 10% dan DKI Jakarta 40%.
    Dari pangsa pasar Mendong, ekspor 10%, lokal 30%, Bandung 10%, DKI Jakarta 15% dan daerah lainnya sebesar 35%.

    Untuk merespon tantangan yang berkembang, perlu dilakukan identifikasi potensi industri kreatif serta penyusunan master plan, adanya pemilihan dan penyiapan jenis industri kreatif secara selektif. Serta pengembangan SDM pelaksana dan pendukung pengembangan organisasi dan tenaga kerja yang handal.
    Hal lain yang perlu dilakukan, ujar Deddy adalah pengembangan prasarana kreatif dengan dibuatnya forum terbuka untuk menerima masukan dan koreksi dari Kabupaten/Kota di Wilayah Priangan. Hal ini dilakukan dengan membuat kombinasi peta jalan Kota Tasikmalaya dan Kota Bandung sebagai lokomotif pengembangan ekonomi kreatif wilayah Priangan. (NR)

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus