Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

artikel

Website Resmi Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Melestarikan Kearifan Lokal, Mahasiswa IPB Blusukan ke Kasepuhan Ciptagelar

    https://www.jabarprov.go.id/assets/images/artikel/gambar_art434.jpg

    Kearifan lokal merupakan bagian dari budaya suatu masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari bahasa masyarakat itu sendiri. Sayangnya, perkembangan zaman telah membawa nilai-nilai kearifan lokal terus tergerus keberadaannya. Sebutlah Kasepuhan Ciptagelar, sebuah kampung adat yang berada di kawasan pedalaman kaki gunung Halimun Salak. Kampung ini dikenal sebagai satu-satunya kampung yang masih melakukan tradisi ngalalakon (menjalankan tradisi berpindah yang berdasar pada wangsit yang diterima dari para leluhur). Masyarakat kasepuhan ini dikenal luas dengan adat dan tradisinya yang masih kuat di era kemajuan  yang semakin menjamur.

    Sebagai kampung yang masih memegang teguh tradisi leluhur, pada dasarnya Kasepuhan Ciptagelar bukanlah sebuah komunitas masyarakat tertinggal seperti yang kita pikirkan. Hal ini selaras dengan arti nama Ciptagelar yang berarti waktunya untuk dikeluarkan (membuka diri untuk memperlihatkan tatanan adat yang ada untuk dipelajari oleh orang lain).

    Keunikan ini membawa beberapa Mahasiswa Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IPB University yang tergabung dalam kepanitiaan The 6th Connection 2020 untuk datang dan mempelajari lebih dalam tentang hal - hal yang menjadi khas dari sebuah kampung di lereng pegunungan ini.

    Setelah sepekan melihat, mengamati, dan mempelajari secara langsung kehidupan di Ciptagelar, pada Sabtu, 10 Oktober 2020 mahasiswa IPB berhasil untuk menunjukan secara langsung kehidupan masyarakat adat ini kepada dunia luar melalui puncak acara The 6th Connection 2020 yang bertajuk “Exclusive Talk and Live Report from Kasepuhan Ciptagelar”. Menarik halnya yaitu jaringan yang dipakai untuk live streaming melalui instagram dan youtube Himasiera ini ditopang oleh jaringan Wi-fi 5G yang telah dimiliki oleh Kasepuhan Ciptagelar sendiri. Bahkan selain akses terhadap Wi-fi, kampung adat ini telah memiliki saluran televisi lokal bernama CIGA TV dan saluran radio Swara Ciptagelar yang bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat.

    Situasi lain yang tak kalah menarik adalah saat pandemi melanda dan meresahkan sebagian besar masyarakat di dunia, ternyata hal ini tidaklah berpengaruh pada kehidupan masyarakat  di Kampung Ciptagelar secara langsung. Pandemi yang terjadi saat ini telah diprediksi dan diantisipasi oleh leluhur dengan menitipkan tradisi menyimpan hasil panen pada leuit (lumbung padi) yang saat ini ternyata sudah cukup untuk persediaan pangan masyarakat hampir seabad kedepan. Istilah Dewi Sri atau Seri yang berarti seimbang dimaknai bahwa hubungan manusia dengan padi sebagai sumber pangan bukanlah suatu hal yang remeh, sehingga masyarakat berkeyakinan untuk tidak menjual hasil padinya. Kepercayaan ini juga membawa pengaruh terhadap proses bertani yang digunakan. Menilik dari proses bertanam padinya,  tradisi ini mewajibkan masyarakat Ciptagelar untuk menolak  menggunakan alat dan teknologi yang berkaitan seperti traktor dan penggiling padi. Penolakan ini didasarkan pada masyarakat Ciptagelar yang telah memiliki rangkaian tersendiri terkait proses menanam hingga memanen padi yaitu mulai dari ngaseuk, mipit, nganyaran, seren taun, dan lain sebagainya. 

    Tata kehidupan yang berkembang di masyarakat pun memiliki makna tersendiri. Layaknya kebiasaan bersalaman yang umumnya hanya menggunakan tangan kanan, masyarakat Kasepuhan Ciptagelar terbiasa bersalaman antara kanan dan kiri yang memiliki filosofi nilai keseimbangan yang berakar pada kepercayaan akan dewi padi.

    Wah, menarik sekali bukan keunikan di Kasepuhan Ciptagelar? Melestarikan kearifan lokal bukanlah suatu hal yang menghambat sebuah kemajuan, asalkan mau membuka diri dan menerima teknologi yang terus berkembang. Kasepuhan Ciptagelar inilah bukti nyatanya, dengan peribahasa ‘urang kudu bisa ngigelan jaman, tapi ulah kabawa ku jaman’ yang berarti kita harus mengetahui perkembangan zaman tapi jangan terbawa oleh zaman itu, kampung adat ini seolah menunjukan kepada dunia bagaimana cara untuk mempertahankan identitas diri di tengah zaman yang semakin menjadi-jadi.

    So, dimanapun kalian berada junjunglah tinggi kearifan lokal dan budaya leluhur tanpa menolak kemajuan zaman. Terbuka dan selektiflah pedoman yang bisa dipegang sebagai modalnya.

    Tunggu apalagi, buat kamu yang mau nonton keseruan mahasiswa IPB lebih lanjut segeralah kunjungi akun youtube Himasiera IPB.

    Salam hangat sahabat online, stay safe and stay healthy!

           
           

    Artikel Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus