Bulan Suci Ramadhan 1433 H
20 Juli 2012

Bulan suci Ramadhan 1433 sebagai bulan mengerjakan ibadah shaum bagi ummat Islam masih ditandai perbedaan penetapan awal bulan Ramadhan. Pemerintah   awal Bulan Ramadhan jatuh pada Hari Sabtu (21/7). Sedangkan sebagian menetapkan pada Hari Jum’at (20/7) yang dimotori oleh mereka yang menggunakan system hisab haqiqi. Perbedaan ini sebenarnya telah lama terjadi di Negeri ini, karena memang, Negara tidak memutuskan harus sama. Yang dipentingkan adalah menjaga ukhuwah Islamiyah. Dibelahan negara Islam lainnyapun acapkali berbeda.

Yang penting sekarang adalah kita fokus melaksanakan ibadah shaum satu bulan lamanya untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Swt.

Fokus dalam menahan lapar dan dahaga seperti sudah hal yang biasa, karena itu dijalankan dari terbit fajar hingga lepas maghrib dan selanjutnya dari mahgrib hingga subuh kita masih bebas makan dan minum. Jadi konsepnya hanya memindahkan waktu makan saja. Namun fokus untuk menjadikan kita mampu menahan dan melawan hawa nafsu inilah yang harus menjadi titik perhatian. Dalam konteks inilah, kadangkala kita kalah dari pengaruh syaetan.

Inti utama ibadah shaum adalah mengendalikan hawa nafsu. Tidak saja disiang hari  juga selepas magrib dan sampai hari-hari berikutnya. Untuk melatih kemampuan mengendalikan hawa nafsu itu, tentu memerlukan upaya-upaya konkret selama satu bulan penuh. Misalnya, mengisinya dengan membaca dan mentadabburi ayat-ayat al qur’an, membaca kitab-kitab hadits dan menggali kembali sejarah peradaban Islam masa lalu.

Para sahabat Rosul ketika tibanya Bulan Ramadhan selalu berupaya sebanyak-banyaknya membaca al qur’an dan mengkajinya. Ada yang khatam tiap hari dan satu minggu sekali dan ada yang hingga hafal 30 Juz al qur’an. Kita bila memungkinkan, mengikuti seperti itu. Namun kalau tidak, berupaya menamatkan bacaan dalam satu bulan saja berikut mengkajinya.

Kemudian, ikuti forum-forum kajian  untuk lebih mengenal lebih dalam tentang Islam. Forum kajian ini biasanya dilaksanakan di masjid-masjid pada sebelum berbuka maupun usai mengerjakan ibadah sholat taraweh, dimalam hari. Ada baiknya pada moment Bulan Suci Ramadhan ini satu bulan penuh dijadikan arena menempa diri  agama. Tholabil ‘ilmi dari satu masjid ke majid lainnya tanpa melihat organisasi  apa yang diemban masjid itu. Sekarang ini, masjid-masjid tertentu selalu mengadakan kajian-kajian. Selain dimasjid, juga diberbagai media siaran, baik televisi maupun media siaran radio hampir setiap hari selalu mengadakan forum kajian Islam.

Selain diisi dengan mengikuti kegiatan itu, isipula selama Bulan Ramadhan itu dengan sering mengunjungi kelompok-kelompok masyarakat miskin, baik yang tergabung dalam sebuah yayasan maupun tidak. Kegiatan ini penting untuk mengingatkan  bahwa dibawah kita masih banyak orang yang miskin. Kita hidup berkecukupan, sedangkan mereka serba kekurangan. Dengan demikian akan timbul rasya syukur kepada Allah. Dan setelah itu, kita menyantuninya dari sebagian harta kita sebagai infaq, shodaqoh, dan atau zakat. Untuk menyucikan diri dan harta dari hak-hak orang miskin. Oleh karena itu, ada baiknya kita mempersiapkan menyisihkan sebagian harta kita untuk fakir miskin dan memberikannnya langsung kepada mereka.

Bila kegiatan itu dilakukan secara istiqomah selama satu bulan penuh, niscaya selepas bulan suci Ramadhan kita akan memperoleh suatu kondisi dimana kita memiliki daya tahan yang prima atau memiliki kemampuan dalam mengendalikan hawa nafsu, sehingga tidak  mudah tergoyahkan oleh bujuk rayu syaetan yang selalu mengarah pada keburukan dan kemaksiatan.

Upaya-upaya seperti itu, mestinya dijalankan oleh segenap pimpinan negara kita. Sehingga pada saat menjalankan roda-roda kenegaraan dan pemerintahan selalu didasari oleh ibadah kepada Allah. Karena sudah terbentengi oleh sifat ketaqwaan maka tidak akan ada kasus-kasus seperti korupsi, penyalahgunaan wewenang dan bentuk rupa maksiat lainnya ketika menjalankan roda pemerintahannya. Semua fokus untuk kepentingan rakyat. Fokus, berupaya mensejahterakan rakyatnya. Kita berbuat dari hal yang sederhana saja dan itu bisa.


Sumber : berbagai sumber
Penulis : purnomo