Kebangkitan Kini
29 Mei 2012

 

Kebangkitan Nasional  dulu, memiliki tujuan ingin merdeka, bebas dari belenggu penjajahan serta setiap orang bebas merdeka mengapresiasikan dirinya untuk mengisi kemerdekaan itu. Tujuan yang diinginkan para pendiri kebangkitan nasional  dulu itu, akhirnya tercapai setelah kita merdeka pada Tanggal 17 Agustus 1945.

Kini, Kebangkitan Nasional itu masih sangat relevan dan memiliki kemiripan tujuan dan sasarannya. Kalau dulu sasarannya adalah merdeka. Kinipun sama sasarannya ingin merdeka. Kalau dulu merdeka dari penjajahan. Sekarang ingin merdeka dari belenggu penjajahan di berbagai bidang atau segi kehidupan bangsa dan bernegara.

Walau kita sudah merdeka, namun masih merasakan betapa masih terjajah oleh negara-negara maju. Contoh, untuk bidang teknologi, kita masih menjadi penonton atau pengguna, bukan sebagai produsen atau  pabrikan. Hampir semua produk berteknologi tinggi bukanlah buatan bangsa sendiri, sebut saja, komputer, kendaraan bermotor, permesinan pabrik, pesawat terbang dan teknologi perminyakan. Amat sedikit produk yang dihasilkan bangsa kita ini. Dibidang ekonomi, kita masih dijejali pemodal asing yang namanya kapitalis berinvestasi memanfaatkan kekayaan sumber daya alam kita. Disini kita kurang berdaya sehingga acapkali berada pada posisi yang lemah dalam menentukan bagi hasil  sebuah explorasi hasil kekayaan alam. Dibidang kebudayaan, generasi kita semakin menggandrungi  seni dan budaya asing terutamadari  Amerika dan Eropah. Betapa Lady Gaga bisa menggemparkan Indonesia dan diidolakan walaupun tidak jadi show di Indonesia. Di berbagai media sangat jarang dipetunjukkan tontonan  seni dan budaya  Indonesia. Kalaupun ada hanya sekedar dalam  berita atau sempalan suatu acara. Anak-anak  jadi semakin meninggalkan budayanya sendiri dan menganggap budaya luar sebagai budayanya sendiri. Apalagi dengan munculnya berbagai produk teknologi informasi terutama teknologi internet yang memberikan layanan komunikasi tanpa batas dan waktu, semakin menjauhkan seseorang dari memahami dan menggunakan seni dan budaya sendiri.

Permasalahan di atas sebenarnya bukan untuk diperbincangkan tanpa solusin yang nyata. Kita harus melakukan yang nyata agar bangsa ini tidak tergerus disegala bidang dari ketergantungan bangsa lain. Dari ketergantungan bangsa yang senang produk impor. Sesuatu yang nyata itu mestinya dipelopori oleh Pemerintah sebagai yang menjalankan pengaturan bangsa dan negara.

Pertama, Pemerintah mesti mempelopori secara menyeluruh menggunakan produk dalam negari dalam menjalankan roda pemerintahannya. Mulai dari produk kepentingan perseorangan, produk penunjang proses kerja sampai pada kepentingan orang banyak. Kedua, Pemerintah mesti  bertangan tegas kepada rakyatnya untuk terbiasa menggunakan segala produk bangsa sendiri. Bukan hanya sekedar slogan, informasi atau ajakan, tapi riil menegaskan penggunaan produk kita. Kita iri terhadap bangsa China, Jepang dan Korea yang walaupun produk asing membanjirinya tapi tidak melupakan produk bangsa sendiri. Ketiga negara tersebut akhirnya menjadi maju dan menguasai dunia.

Ketiga, masyarakat dan wakil masyarakat harus menyadari sepenuhnya, betapa pentingnya menjungjung tinggi produk dirinya sendiri. Harus ada kebanggaan terhadap bangsa dan negara sendiri. Dulu ketika jaman orde baru, ada slogan Aku Cinta Indonesia (ACI). Sekarang, slogannya sudah tidak tedengar lagi, bahkan lupa bahwa kita memiliki slogan itu. Mestinya , slogan seperti itu harus terus diinformasikan hingga masyarakat membudayakannya.

Semuanya  belum terlambat. Masih ada waktu untuk bangkit sebagaimana semangat bangkitnya pahlawan nasional dulu. Hanya saja semua harus menyadari bahwa  hanya dengan kembali kepada jati  diri maka kita bisa bangkit dan maju. 


Sumber : -
Penulis : zaenal