Kemajuan Kartini Modern
21 April 2012

 

Perjuangan RA kartini agar kaum perempuan Indonesia beroleh hak emansipasi  terus dianjutkan oleh Kartini-Kartini modern sekarang ini. Keinginan kaum perempuan untuk maju dan memiliki kemampuan serta berperan diberbagai bidang telah terpenuhi, walupun kuantitas dan kualitasnya masih rendah. Banyak kiprah dilakukan kaum perempuan sekarang sehingga mereka bisa berperan. Namun juga banyak kaum perempuan atau kaum ibu yang belum berkesempatan beroleh kemjuan karena terkendala kemiskinan dan kekurangan pendidikan. Namun, secara keseluruhan telah menunjukkan kemajuan.

Kalaulah RA Kartini dialam sana bisa melihat dan mendengar, tentu akan merasa bangga, bahwa yang dicita-citakannya sudah cukup tercapai . Banyak kiprah perempuan Indonesia diberbagai bidang. Dibidang pemerintahan, banyak sudah menduduki peran yang penting dan strategis. Ada yang menduduki menteri pada kabinet presidensial, dirjen dilingkup kementrian, gubernur, walikota, dan hingga camat dan kepala desa. Hasil kerjanya dan kemampuan leadershipnya tidak kalah dengan kaum laki-laki. Bahkan untuk  urusan tertentu, misalnya penanganan administrasi perkantoran, lebih maju karena lebih tekun dalam mengelolanya. Para buruh di pabrik-pabrik juga lebih memilih kaum perempuan, karena memiliki kepatuhan dan keuletan serta kesabaran dan bekerjanya. Kendatipun demikian, kemajuan kaum perempuan tersebut,  tidak mengurangi dedikasinya terhadap keluarga, terhadap anak, terhadap suaminya. Bagi kaum perempuan yang tidak bekerja dan memfokuskan pada pembinaan keluarga juga berhasil menciptakan keluarga yang maju dan sejahtera. Anak-anaknya mampu disekolahkan dan berakhlak baik.Kehidupan keluarganya juga sejehatera dan memiliki kemajuan. Semua itu berkat kemampuan peran dan fungsinya dalam mengatur kehidupan di keluarga.

Berbagai kemajuan kaum perempuan itu membanggakan dan membahagiakan RA  Kartini dan ada sisilain yang juga memprihatinkan. Masih banyaknya kaum perempuan terutama diperdesaan yang karena kemiskinan dan kekurangan pendidikan menyebabkan mereka tidak memiliki kemajuan dan peran yang besar sebagaimana teman-temannya di perkotaan. Kaum perempuan atau kaum ibu di perdesaan itu masih serba kekurangan. Bahkan menurut data yang ada dari 8,5 juta buta aksara di Indonesia, sekitar 5,1 juta jiwa adalah kaum perempuan, artinya hampir tiga perempatnya adalah perempuan. RA Kartini akan prihatin kalau mendengar kondisi ini.

RA Kartinipun akan risau dan prihatin, bahwa ternyata kaum perempuan Indonesia yang sudah maju itu, kurang berakar pada seni budaya Indonesia. Mereka lebih menyenangi seni dan budaya yang dibawa arus globalisasi atau modernisasi dengan kiblat budaya barat (Eropah dan Amerika). Dari cara berpakaian, maka sangat jarang menggunakan budaya asli Indonesia, bahkan kaum perempuan sekarang nyaris tidak memiliki pakaian asli Indonesia, seperti kebaya. Mereka lebih senang pada pakaian barat yang simpel dan trendy, seperti pakai celama jeans bahkan celana pendek. Pengaruh arus modernisasi menggerus keinginan RA Kartini untuk membumikan seni dan budaya Indonesia. Sebenarnya RA Kartini berkeinginan kemajuan kaum perempuan itu tidak hanya dari pendidikan dan perannya, tapi juga dari cara menggunakan seni dan budaya aslinya.

Tetapi tidaklah menjadi kegalauan yang terus-menerus dari berbagai keprihatinan itu, yang kita utamakan adalah bahwa kemajuan yang telah dicapai kaum perempuan itu harus ditingkatkan sambil  sedikit demi sedikit diluruskan kearah karakter seni dan budaya Indonesia.

Sekarang yang paling penting adalah mengangkat kaum perempuan di perdesaan yang belum mendapatkan kemajuan itu. Perlu beberapa program dilaksanakan dan hal ini menjadi fokus perencanaan Pemerintah.

Pertama, Program yang sekarang dilaksanakan Pemerintah misalnya pemberantasan buta aksara agar lebih digencarkan, sudah barang tentu anggarannyapun harus diperbesar. Kaum ibu harus menjadi prioritas ;

Kedua, program pembinaan keluarga melalui basis PKK yang selama ini terbukti efektif meningkatkan derajat pendidikan kaum perempuan harus ditingkatkan. Tidak hanya sekedar kegiatan ibu-ibu pimpinan di tiap daerah, tapi benar-benar teranggarkan dalam APBD di tiap OPD dari tingkat provinsi, kab/ko sampai kecamatan dan desa ;

Ketiga, konon tingkat kematian ibu dan anak di Indonesia, masih cukup tinggi. Maka lagi-lagi program kesehatan harus menyentuh langsung mereka. Program jamkesmas/da  perlu dikhususkan bagi kaum ibu diperdesaan. Infrastruktur kesehatan juga harus tersedia penuh diperdesaan. Kita dukung program Pemerintah dalam membangun Puskesma Poned, dan seharusnya setiap puskesmas seperti itu;

Keempat, bila kaum ibu sudah pandai membaca, menulis, dan berhitung, kemudian fisiknya sehat dan aktifitasnya berperan, maka tinggal kita beri skill atau keterampilannya dalam rangka memajukan kemampuan berusahanya terutama mendampingi suaminya dalam bekerja. Pemerintah menyediakan sumber-sumber kemajuan diperdesaan, maka seyogianya akan tumbuh kreatifitas kaum perempuan di perdesaan. Selama ini, kesan pembanghunan dan sumber kemajuan itu lebih banyak tumbuh di kota-kota, tapi di perdesaan kurang atau bahkan tiada sama sekali.  Sudah waktunya programnya dibalik.

Dari hal itu semua, kita perlu introspeksi diri dari hal-hal yang telah dilakukan. Kemajuan demi kemajuan secara fisik atau lahiriah menjadikan kaum perempuan alami kemajuan. Tapi juga masih banyak yang perlu dibantu.  Ksatu sisi ada kemajuan dari peran dan fungsinya, tapi sisi lain ada keprihatikan karena menjauhnya kaum perempuan dari seni dan budayanya sendiri. Seni dan budaya Indonesia baru sekedar digunakan pada acara-acara seremonial saja.  

Selamat terhadap kaum perempuan dan mari kita rayakan pesan kartini puluhan tahun yang lalu itu dengan meningkatkan kiprahnya dibidang masing-masing.


Sumber : berbagai sumber
Penulis : Purnomo