Ahmad Heryawan, Tokoh Perubahan
18 April 2012

 

Prestasi gemilang Gubernur Jabar  Ahmad Heryawan terus bersinar. Setelah sederet penghargaan tingkat Nasional diraih. Kali ini,  Ahmad Heryawan mendapat anugerah sebagai Tokoh Perubahan 2011 versi Harian Republika. Selain Heryawan, terdapat empat tokoh nasional lainnya yang mendapatkan penghargaan serupa, yakni Hatta Rajasa, Amran Nur, Abdullah Syukri  Zarkasyi, dan Heppy Trenggono.  Pemberian Anugerah Tokoh Perubahan 2011 berlangsung di Ballroom, Djakarta  Theatre Building Lt 2, Jakarta, Selasa (17/4) malam.

Penganugerahan atas capaian prestasi gemilang seperti itu, menurut Heryawan sebagai wujud pengakuan publik yang harus diapresiasi. Dirinya mempersilahkan  bila ada salah satu lembaga, yakni Harian Umum Republika yang mencatat kinerjanya sebagai sebuah terobosan dalam mengubah Jawa Barat menjadi lebih baik dengan semangat menghadirkan masyarakat Jawa Barat yang Mandiri Dinamis dan Sejahtera. Menurutnya Ini sebuah anugerah bagi seluruh masyarakat Jawa Barat, karena apa yang sudah dicapai hingga kini adalah berkat dukungan dan doa dari 44 juta warga Jawa Barat.

Lagi Heryawan, mendapat amanah menjadi Gubernur Jawa Barat adalah satu kepercayaan sekaligus amanah. Karenanya, begitu dilantik, Heryawan langsung melakukan berbagai terobosan program dengan tujuan memenuhi harapan dan keinginan masyarakat Jawa Barat. Janji-janji saat kampanye Pemilihan Gubernur tahun 2008 lalu satu per satu mulai direalisasikan secara bertahap tapi pasti. Tahun pertama adalah masa yang paling berat bagi saya dalam memimpin Jawa Barat,“ kata suami dari Netty Prasetyani. Namun berkat kerja keras dan dukungan semua pihak, khususnya doa tulus masyarakat Jawa Barat, menjadikan dirinya siap mengemban amanah ini.

Lebih lanjut Heryawan menyatakan dirinya bertekad mewujudkan semua aspirasi masyarakatnya. Bidang yang menjadi prioritasnya seperti yang  disampaikannya saat kampanye lalu, yaitu pendidikan murah, sejuta lapangan kerja, kesehatan masyarakat, perbaikan ekonomi masyarakat, hingga membenahi  infrastruktur di seluruh wilayah Jawa Barat mulai diwujudkan. Dan kerja keras selama hampir tiga tahun mulai membuahkan hasil. Apresiasi terhadap kinerjanya diberikan pemerintah pusat melalui berbagai penghargaan. Bahkan, dalam sebulan, 2011, Heryawan pernah menerima empat anugerah dan  penghargaan.

Adapun keempat penghargaan dalam bulan Desember 2011 itu yakni pertama diterimanya saat Hari Nusantara 13 Desember di Dumai, Riau, kemudian Satya Lencana Kebaktian Sosial di Yogyakarta pada Peringatan  HKSN 19 Desember, Parahita Ekapraya Pratama di Jakarta pada Peringatan Hari Ibu 22 Desember, dan Transmigrasi Award pada 27 Desember 2011. Tak banyak kepala daerah yang menerima empat penghargaan berkategori nasional dalam waktu sebulan.

Sebelum itu, sederet penghargaan diraih oleh Heryawan dalam rentang 2011, antara lain, Entrepreneurship Development dari Menteri Koperasi dan UKM. Pemerintah  pusat juga mengganjar Pemprov Jawa Barat dengan penghargaan bertajuk  “Anugerah Pangripa Nusantara“ karena dinilai memiliki perencanaan pembangunan  terbaik dan dinilai sukses meningkatkan kualitas pembangunan daerah.


Menteri Pendidikan bahkan secara khusus memberikan penghargaan kepada Heryawan karena dinilai  berhasil membina sekaligus mendorong perkembangan pendidikan inklusif.  Kiprahnya dalam mengelola pemerintahan di Jawa Barat juga mendapat apresiasi  dari Youngsan University Korea Selatan.  Salah satu universitas terkemuka di Negeri Ginseng ini mengganjarnya dengan gelar doctor honoris causa bidang manajemen pemerintahan. Itu adalah keberhasilah  seluruh stakeholder Jawa Barat. Tanpa peran serta seluruh lapisan masyarakat  mustahil penghargaan itu bisa diraih.

Bapak enam anak yang sebelum menjabat Gubernur Jawa Barat rutin berbelanja di  pasar tradisional itu mengakui, masih banyak pekerjaan yang belum diselesaikan. Beberapa persoalan yang menurutnya sangat prioritas untuk dituntaskan adalah  masalah kesehatan, khususnya menyangkut fasilitas puskesmas.  Dirinya  menargetkan, pada 2012 ini ada 200 puskesmas dengan pelayanan obstetri  neonatal emergesi dasar (Poned) di Jawa Barat. Selain itu, Heryawan juga  menargetkan komposisi pendidikan menengah atas akan dibalik, yaitu 65 persen  SMK dan 35 persen SMA. “Idealnya, 70 berbanding 30. Tapi, bisa mewujudkan 65  banding 35 sudah sangat bagus.


Sumber : berbagai sumber
Penulis : erawan