Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Wagub Uu: Santri Wajib Melek Teknologi

    http://www.jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_30203.jpg

    KAB.GARUT-Perkembangan zaman sudah berubah sehingga perkembangan era globalisasi ini tidak bisa dihindari. Oleh karena itu, agar santri tidak terseret dan termarjinalkan maka harus mengikuti perkembangan teknologi.

    Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum mencontohkan salah satu Pondok Pesantren (Ponpes) Qurota Ayun di Samarang Kabupaten Garut sudah menerapkan teknologi dalam sistem pembelajaran bagi para santrinya. Ia menuturkan, pola pendidikan di Ponpes bukan hanya sebatas memberikan keilmuan ukhrowi (agama) melainkan dilengkapi dengan ilmu keduniawian.

    "Justru di pondok pesantren Qurota Ayun ini sudah menjalankan konsep itu. Santri hapal teknologi," katanya kepada wartawan di Ponpes Qurota Ayun, Samarang, Kabupaten Garut, Sabtu (6/10/2018).

    Uu mengungkapkan, pondok pesantren bisa membentengi dampak negatif dari perkembangan teknologi yaitu membekali para santrinya dengan nilai-nilai agama. Jika tidak diberikan maka akan berdampak negatif bagi perkembangan generasi di masa yang akan datang.

    "Setiap hal di dunia ini ada manfaat dan maksadat. Maka sisi negatif ini harus diminimalisir dengan keilmuan yang diberikan di pondok pesantren ini. Kalau tidak diberikan maka khawatir teknologi yang ada akan menjadi petaka bagi dirinya arena tidak dibentengi dengan keimanan dan ketakwaan," jelasnya.

    Uu menjelaskan sebelumnya orang tua jarang menyekolahkan anak-anaknya di Ponpes karena tidak memiliki legalitas ijazah yang diakui secara umum. Namun, saat ini beberapa Ponpes sudah memiliki legalitas ijazah yang sudah resmi diakui oleh pemerintah.

    "Justru ini yang dibutuhkan masyarakat. Karena zaman dulu kenapa banyak orang tua yang jarang memasukkan anaknya ke pesantren, karena tidak memiliki shadah atau legalitas formal yang diakui oleh negara," ungkapnya.

    Adanya legalitas ijazah tersebut berdampak pada jumlah santri di setiap Ponoes yang mengalami peningkatan. "Dalam kurun waktu 15 tahun jumlahnya sudah 3 ribu santri. Diharapakan pesantren yang lain bisa mencontoh terhadap perkembangan dan metode yang diajarkan di pesantren Qurota Ayun," pungkasnya. (Pun)

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus