Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    UEA Bidik Investasi Bidang Infrastruktur Jabar

    http://www.jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_25278.jpg

    BANDUNG-Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (BPMPT) Provinsi Jawa Barat, Dadang Masoem mengatakan negara-negara Timur Tengah termasuk Uni Emirat Arab (UEA) memilih investasi di sektor infrastruktur Jawa Barat dengan nilai diperkirakan mencapai USD33 juta.

    Dadang menilai mereka belum berani masuk ke sektor manufaktur karena masih dikuasai oleh Jepang. Selain itu UEA berinvestasi di bidang pariwisata seperti bisnis hotel.

    "Mereka (UEA) berinvestasi ke infratsruktur sebagai kontraktor proyek,"katanya kepada wartawan di Bandung, Selasa (10/10/2017)

    Dadang menilai investor Timur Tengah ingin berinvestasi di bidang yang kongkrit. Namun kajian proyek di Jabar belum lengkah sehingga para investor menanyakan nilai investasi proyek yang ditawarkan. 

    "Sebetulnya yang paling dekat itu Uni Emirat Arab ranking ke 58 yang mencapai USD 33 juta masih jauh jika dibandingkan negara lain. Yang paling tinggi itu Jepang, Singapura, Korea Selatan termasuk Malaysia,"papar Dadang.

    Dadang mengaku sejauh ini investasi Timur Tengah di Jabar masih terbilang minim karena kultur investasi mereka selalu bekerja sama dengan pihak lain.

    "Jadi kita nyatanya yang main investor padahal sudah ada inevstor Timur Tengah di dalamnya,"ujar Dadang.

    Hal yang sama juga terjadi ketika diketahui bahwa nilai investasi Singapura lebih tinggi dibanding negara lain. Ternyata, investor sebenarnya berasal dari Eropa termasuk Timur Tengah.

    Dia mencontohkan perusahaan Air Conditional dari Inggris dengan lokasi pabrik ada di Johor Malaysia sedangkan kantornya ada di Singapura sehingga yang dicatat investor Singapura padahal kepemilikannya dari Inggris. 

    "Jadi kita susah melacaknya. Kita baru tahu bahwa 30 persen saham Matahari dimiliki oleh investor Timur Tengah. Begitu pun dengan  Singapura yang masuk di lima besar tapi ternyata bukan asli Singapura melainkan investor Eropa yang menggunakan orang-orang Singapura,"jelas Dadang.

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus