Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Listrik untuk Desa Terpencil dari Mahasiswa Unpad

    http://www.jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_24062.jpg

    BANDUNG-Listrik masih sulit diakses oleh warga di daerah terpencil. Kondisi ini menggugah sekelompok mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran. Mereka mengembangkan sistem pasokan listrik mandiri dan sederhana dengan menggunakan solar panel sebagai sumber energinya. Sistem pembangkit listrik rumahan sederhana ini diberi nama “Solahen” (Solusi Lampu Hemat Energi).
     
    Mereka adalah Andika Lipo Sumatara, Ronaldo Hadyanto Manik, Fadhulloh Nugraha Setiawan, dan Rhesa Setyo Santoso, sang pengembang ide Solahen. Lipo, penggagas ide ini mengatakan, produk Solahen dibuat sesederhana mungkin agar dapat diaplikasikan langsung ke masyarakat, terutama di wilayah terpencil.
     
    Ide Solahen berawal dari pengalamannya saat mengikuti KKNM Unpad di Desa Mekarjaya, Kecamatan Mande, Cianjur, 2014 silam. Di desa tersebut, ada satu dusun dengan 66 kepala keluarga belum mendapatkan aliran listrik.
     
    Sepulangnya dari KKN, Lipo kemudian berpikir solusi apa yang bisa dikembangkan agar masyarakat di daerah terpencil dapat mendapatkan listrik. Setelah beberapa kali pengembangan, Lipo kemudian menggunakan solar panel dan aki sebagai sumber energi untuk menghasilkan listrik di rumah.
     
    Secara teknis, Solahen memanfaatkan energi matahari untuk dikonversi ke dalam solar panel. Energi kemudian disimpan dalam aki dan dialirkan ke dalam lampu-lampu rumah. Sistem dibuat sederhana agar masyarakat dapat melakukan instalasi dengan mudah, bahkan dapat dilakukan oleh kelompok usia apa saja.
     
    Diakui Lipo, pengembangan Solahen diambil dari komponen yang banyak di pasaran. Meski minim inovasi produk, ia lebih mengutamakan komponen yang banyak di pasaran agar lebih mudah diinstalasi.
     
    Harga satu set Solahen cukup menghabiskan biaya 2 juta rupiah. Khusus, untuk program penjangkauan ke masyarakat terpencil, Lipo dan rekannya menggratiskan seluruh biaya pengadaan alat dan pemasangan instalasi. 

    “Kita memang targetkan masyarakat mendapat produk ini dengan gratis,” ujar Lipo dalam siaran pers Humas Unpad, Senin (17/7).

    Produk ini kemudian dikembangkan lebih luas dengan nama “Indonesia Terang” sejak 2015. Berbeda dengan program Indonesia Terang milik pemerintah, program milik Lipo dan kawan-kawan sudah jauh diaplikasikan di masyarakat sejak 2014. Sampai saat ini sudah banyak wilayah yang dibantu oleh Lipo. Mulai dari pelosok Sumatera Barat, Riau, Maluku, Papua Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, hingga Kalimantan Timur. jo
      

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus