Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Dorong Minat Baca, BI Corner Bidik Pesantren

    http://www.jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_23679.jpg

    BANDUNG-Minimnya minat baca masyarakat yang hanya mencapai 0,01 persen atau 17 lembar setahun bahkan menduduki posisi ke 60 dari 61 negara, mendorong Bank Indonesia mendirikan pojok baca yang dikenal dengan istilah BI Corner di beberapa lokasi di Indonesia, salah satunya di lingkungan Pondok Pesatren.

    Deputi Gubernur Bank Indonesia Rosmaya Hadi mengatakan secara nasional pihaknya sudah mendirikan sekitar 262 BI Corner. BI Corner atau pojok baca merupakan salah satu kegiatan sosial dari Bank Indonesia untuk masyarakat. Di Jawa Barat sudah terdapat 5 BI Corner baik yang berada di Instansi Pemerintahan, Kampus, maupun Pesantren.

    "Target kita 1.000 BI corner berdiri tahun ini dan merupakan salah satu pengabdian bank Indonesia untuk negeri dalam mecerdaskan bangsa. Karena kita melihat minat baca di Indonesia sangat rendah, hanya 0,01 persen atau 17 lembar setahun," katanya

    Rosmaya Hadi menjelaskan, Jabar memiliki peranan yang penting dalam pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. Sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak yakni 46,5 juta orang dan 98% penduduknya beragama Islam. Selain itu, Jabar memiliki jumlah sumber daya manusia untuk dikembangkan dan diarahkan menjadi sumber daya insani penggerak utama pengembangan ekonomi syariah di Indonesia.

    "Dalam rangka untuk dapat membantu meningkatkan kualitas sumber daya insani tersebut, kami menginisiasi program BI Corner di Pondok Pesantren Al Falah sebagai program BI Corner pertama di lingkungan pondok pesantren," paparnya.

    Adapun, Kepala KPwBI Jabar, Wiwiek Sisto Widayat mengatakan, berdasarkan riset yang dilakukan bersama Center for Islamic Economic Studies (CIES) menunjukkan pesantren di Jabar memiliki potensi yang dapat dijadikan sebagai lembaga ekonomi alternatif dalam pemberdayaan masyarakat pesantren berbasis ekonomi syariah.

    Wiwiek mengungkapkan setidaknya ada lima peta permasalahan utama dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Yakni, keterbatasan sumber daya insani yang berkualitas, struktur ekonomi dengan berbagai ketimpangan, potensi sektor sosial dengan keterbatasan pengaturan, pasar keuangan syariah yang masih dangkal, dan kinerja keuangan syariah yang stagnan.

    "Bersama pondok pesantren, proses kolaborasi ini fokus pada dua pilar pengembangan. Yaitu penguatan sumber daya insani dan pemberdayaan masyarakat," pungkasnya. (MAT)

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus