Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Anak-anak Paling Menderita Akibat Asap

    http://www.jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_14284.jpg

    BANDUNG-Bencana asap pekat di sejumlah provinsi yang ada Sumatera dan Kalimantan akibat kebarakan  hutan masih terjadi. Selain nyaris menghentikan semua aktivitas masyarakat, dampak paling memperihatinkan dari bencana asap ini adalah menganggu kesehatan masyarakat dan yang paling rentan adalah anak-anak.

    Di Riau saja, berdasarkan data dari Pemerintah Provinsi Riau pada 2014, di provinsi yang punya sumber daya alam melimpah ini, dari 6,1 juta penduduk, terdapat sekitar 700 ribu lebih balita (0-4 tahun) dan lebih satu juta anak-anak (usia 5-14 tahun).

    “Bencana kabut asap ini sangat berpotensi menganggu kesehatan mereka. Terlebih bayi yang belum memiliki sistem pernapasan yang kuat dan sempurna sehingga sangat berbahaya bila terhirup asap. Potensi gangguan pernapasan yang terburuk itu radang paru-paru. Kondisi ini juga yang sekarang sedang dihadapi anak-anak lain yang daerahnya terpapar asap. Anak-anak lah yang paling menderita akibat bencana asap ini,” ujar Wakil Ketua Komite III DPD Fahira Idris, di Jakarta (2/10).

    Selain dari sisi kesehatan, menurut Fahira, kebutuhan pendidikan dan psikologis anak-anak yang selalu aktif bermain juga terganggu. Akibat asap, kebutuhan rohani dan batin mereka untuk berinteraksi, mendapat pendidikan, dan bermain terunggut karena harus terus berada di rumah. Jika bencana ini tak cepat selesai tumbuh kembang anak-anak ini akan terganggu.

    “Seluruh masyarakat terutama anak-anak di daerah yang terpapar asap harus mendapat pelayanan kesehatan yang prima dan gratis untuk memulihkan kesehatan mereka yang terganggu akibat asap. Ini tugas pemerintah dan sebagai bentuk nyata permintaan maaf negara kepada rakyatnya,” kata Senator Asal Jakarta ini.

    Selama 17 tahun terakhir ini, kebakaran hutan terjadi tiap tahun di Indonesia dengan skala yang berbeda-beda. Tahun ini salah satu yang paling besar dan luas. Menurut Fahira, dampak kerugian yang tanggung masyarakat dari bencana asap tak kalah bahkan lebih besar dengan bencana alam lainnya di Indonesia.

    Fahira berharap bencana asap ini bisa segera berlalu dan tahun ini menjadi bencana asap yang terakhir, karena bencana ini sudah menjadi langganan dan tiap tahun pasti terjadi. Menurutnya, selain penegakan hukum bagi pelaku pembakaran, tindakan preventif agar tahun depan tidak terjadi lagi kebarakan hutan sudah bisa dimulai dari sekarang. Cara yang dilakukan Brasil untuk mengawasi situasi hutan lewat satelit mungkin bisa menjadi salah satu cara untuk deteksi awal jika terjadi kebakaran hutan.

    “Ada baiknya ide Pak Jokowi saat kampanye yang akan menggunakan drone untuk mengawasi perairan Indonesia segera direalisasikan, tetapi digunakan untuk mengawasi dan mencegah hutan-hutan di Indonesia dari ancaman pembakaran,” tukas Fahira.

    Menurut Fahira, yang paling penting saat ini, selain memadamkan titik-titik api, pemerintah harus juga bisa memutus mata rantai kabakaran hutan, sehingga ke depan tidak ada lagi bencana asap. “Ini butuh keberanian. Begitu banyak kerugian yang harus kita tanggung dari bencana yang diakibatkan ketamakan segelintir orang,” tutup Fahira.

     

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus